Loading...

Rabu, 09 Februari 2011

PERANGKAP DAN PENGHADANG (TRAP AND GUIDING BARRIERS)
Bubu Keong Macan

1. Definisi dan Klasifikasi
    Bubu keong macan adalah alat tangkap yang dikhususkan untuk menangkap keong macan, terbuat dari bambu yang dianyam sedemikian rupa menyerupai persegi atau kotak dan dioperasikan di dasar perairan. Bubu keong macan diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang (Martasuganda 2003).

2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
   Satu unit bubu keong macan terdiri dari bubu, tali utama, tali cabang, pelampung tanda dan lampu tanda (Esman 2006).
   a) Bubu. Bagian-bagian bubu keong macan terdiri atas badan bubu, mulut bubu, pemberat dan tempat untuk meletakkan umpan. Badan bubu terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran panjang x lebar x tinggi = 20 x 20 x 7 cm. Mulut bubu berbentuk bulat dengan diameter 10 cm yang berfungsi sebagai tempat masuknya keong macan ke dalam bubu. Pemberat bubu terbuat dari campuran semen dan pasir yang dipasang pada keempat sudut di sisi bawah bubu yang berfungsi agar posisi bubu tetap tegak ketika ada di dasar perairan. Tempat untuk meletakkan umpan terbuat dari kawat yang dipasang melintang pada diameter mulut bubu sepanjang 15 cm (Esman 2006);
  b) Tali utama, berfungsi untuk merangkai bubu yang satu ke bubu yang lain. Tali utama terbuat dari bahan PE berdiameter 6 mm dengan jarak antara tali cabang 2-3 m. Panjang tali utama berkisar 800-1200 m (Esman 2006);
c) Tali cabang, sebagai tempat dipasangnya bubu keong macan, terbuat dari PE dengan diameter 3 mm, panjang tali cabang masing-masing 1 sampai 1,5 m untuk setiap bubu (Esman 2006);
d) Pelampung tanda, berfungsi untuk menandakan tempat bubu keong macan dipasang. Pelampung tanda berjumlah satu buah, terbuat dari tiang bambu atau kayu dengan panjang 1 m dan dilengkapi dengan bendera. Bagian bawah pelampung tanda diberi pemberat agar pelampung tanda tetap berdiri tegak dan styrofoam agar pelampung tanda tetap mengapung di atas air. Pelampung tanda dihubungkan ke tali utama sepanjang 3 m (Esman 2006); dan
e) Lampu tanda, merupakan pelampung dari kayu berukuran alas 65 x 65 cm dan dipasang tiang setinggi 50 cm. Tiang tersebut sebagai tempat dipasangnya lampu (1 buah) yang terbuat dari botol minuman bekas yang diberi sumbu dan minyak tanah serta dilengkapi tali dengan bahan PE berdiameter 6 mm sepanjang 3 m untuk disambung ke tali utama. Lampu tanda berfungsi sebagai alat bantu penerangan untuk memudahkan nelayan dalam menentukan kedudukan bubu keong macan di dalam air (Esman 2006).
Menurut kelompok kami, parameter utama dari bubu keong macan adalah ukuran mulut bubu keong macan.

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Perahu yang digunakan pada pengoperasian bubu keong macan adalah perahu yang menggunakan mesin dalam (inboard engine) berkekuatan 12, 16 dan 20 PK dengan bahan bakar solar. Perahu yang digunakan terbuat dari bahan kayu dengan ukuran berkisar 0,87-2,48 GT dengan panjang (L) antara 6-8 m, lebar (B) 1,3-2 m dan dalam (D) 0,5-0,8 m dengan mesin perahu terletak di bagian tengah kapal (Esman 2006).
3.2 Nelayan
Jumlah nelayan yang mengoperasikan bubu keong macan adalah 3-4 orang, yang masing-masing nelayan bertugas sebagai juru kemudi dan menentukan daerah penangkapan keong macan, menurunkan bubu, mengangkat bubu dan memasang umpan (Esman 2006).
3.3 Alat Bantu
Alat bantu pada pengoperasian bubu keong macan adalah gardan yang biasa dibuat dari bambu, kayu atau besi yang berfungsi untuk membantu proses setting dan hauling bubu keong macan (Martasuganda 2003).
3.4 Umpan
Umpan yang digunakan biasanya ikan pepetek. Ikan tersebut dipotong terlebih dahulu dengan ukuran 5 cm kemudian diletakkan pada tempat umpan yang terbuat dari kawat. Selain itu, bisa juga digunakan ikan rucah berupa ikan-ikan kecil (Martasuganda 2003).

4. Metode Pengoperasian Alat
Adapun tahapan dalam pengoperasian bubu keong macan ada lima tahap, yaitu sebagai berikut (Esman 2006).
a) Tahap persiapan. Persiapan merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum berangkat menuju daerah penangkapan berupa pemeriksaan perahu, alat tangkap, mesin, bahan bakar, umpan dan bahan perbekalan. Persiapan biasanya dimulai pada pukul 15.00 WIB;
b) Tahap pencarian daerah penangkapan keong macan. Penentuan fishing ground dilakukan berdasarkan pengalaman operasi penangkapan sebelumnya dan informasi dari nelayan bubu keong macan lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai daerah penangkapan berkisar antara 1-1,5 jam;
c) Penurunan bubu (setting). Penurunan unit penangkapan bubu keong macan dimulai dengan penurunan lampu tanda, bubu dan terakhir yaitu penurunan pelampung tanda;
d) Perendaman bubu (soaking). Lama perendaman bubu keong macan adalah 2-4 jam; dan
e) Pengangkatan bubu (hauling). Pengangkatan bubu dimulai dengan pengangkatan jangkar ke atas kapal disusul dengan pelampung tanda, kemudian bubu dan lampu tanda. Setelah hauling selesai, dilakukan persiapan untuk setting berikutnya. Hauling maupun setting dilakukan dari bagian kiri haluan kapan.
5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian bubu keong macan biasanya di perairan pantai yang dasarnya berlumpur, berlumpur bercampur pasir atau perairan yang banyak dihuni oleh keong macan dengan kedalaman antara 5-20 meter, tergantung keberadaan keong macan di daerah penangkapan (Martasuganda 2003). Daerah distribusi bubu keong macan adalah di sekitar perairan Pulau Cangkir, Tanjung Pasir dan Tanjung Kait (Esman 2006).

6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan bubu keong macan adalah keong macan (Babylonia spirata) dan beberapa jenis keong lainnya (Martasuganda 2003).

Daftar Pustaka
Martasuganda S. 2003. Bubu (Traps). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Esman M. 2006. Model Fungsi Produksi Unit Penangkapan Bubu Keong Macan (Babylonia spirata) di Karang Serang Tangerang Propinsi Banten . [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Pataka

1. Definisi dan Klasifikasi
Pataka adalah alat penangkap ikan berbentuk silindris dan dilengkapi dengan pelampung dari bambu atau rakit bambu, dioperasikan dengan cara diapungkan di perairan. Pataka diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang (Subani dan Barus 1989).

2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Pataka terbuat dari anyaman bambu, berbentuk silindris dengan panjang 1-2 m dan lingkaran untuk mulut dengan ukuran 1,5 m. Bagian-bagian pataka yaitu sebagai berikut (Subani dan Barus 1989).
a) Badan (body), seperti rongga (berbentuk silinder) yang terbuat dari anyaman bambu, berfungsi sebagai tempat target tangkapan terkurung;
b) Mulut berbentuk seperti corong (kerucut), merupakan lubang tempat masuknya ikan ke dalam pataka; dan
c) Pintu berbentuk lingkaran, merupakan tempat mengambil hasil tangkapan.
Pataka dilengkapi pelampung dari bambu atau rakit bambu yang diletakkan di bagian atas pataka. Rakit bambu tersebut dilabuhkan melalui tali dengan panjang 100-200 m dan dihubungkan dengan jangkar (Subani dan Barus 1989).

Parameter utama dari pataka adalah ukuran mulut pataka.

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Perahu hanya digunakan sebagai alat transportasi nelayan.
3.2 Nelayan
Untuk mengoperasikan pataka dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas untuk memasang dan mengangkat pataka, serta mengambil hasil tangkapan dari dalam pataka.
3.3 Alat Bantu
Dalam pengoperasiannya, pataka menggunakan alat bantu rumpon untuk memikat ikan supaya ikan datang dan masuk ke dalam pataka (Taufiq 2009).

4. Metode Pengoperasian Alat
Adapun tahapan dalam pengoperasian pataka ada tiga tahap, yaitu sebagai berikut (Sainsbury 1996 diacu dalam Susilo 2006).
Penurunan pataka (setting). Penurunan unit penangkapan pataka dimulai dengan penurunan jangkar, tali dan pataka. Perendaman pataka (soaking). Lama perendaman pataka adalah 1-3 jam. Pengangkatan pataka (hauling). Pengangkatan pataka dimulai dengan pengangkatan rakit bambu, pataka kemudian tali dan jangkar.

5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian pataka adalah kolom perairan dengan kedalaman 0-200 m (Subani dan Barus 1989).

6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan pataka adalah kembung (Rastrelliger spp.), tembang (Sardinella fimbriata), japuh (Dussamiera spp.), julung-julung (Hemirhamphus spp.), selar (Selar spp.) (Subani dan Barus 1989).

Daftar Pustaka
Sainsbury J C. 1996. Commercial Fishing Methods. An Introduction to Vessel and Gears. 3ed Edition. London: Fishing News Book.
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Susilo E. 2006. Percobaan Pengoperasian Bubu pada Zona Fotik dan Afotik di Teluk Pelabuhanratu. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Taufiq. 2009. Bubu. http://fiqrin.files.wordpress.com. [30 November 2009].

Bubu Sungai

1. Definisi dan Klasifikasi
Bubu sungai adalah alat penangkap ikan dengan mulut berbentuk lingkaran dan pintu berbentuk lingkaran, terbuat dari bambu yang dianyam sedemikian rupa menyerupai kurungan berbentuk silindris atau agak lonjong dan dioperasikan di sungai. Bubu sungai diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang (von Brandt 1984).

2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Menurut Subani dan Barus (1989), bagian-bagian bubu sungai yaitu sebagai berikut.
a) Badan (body), seperti rongga (berbentuk silinder) yang terbuat dari anyaman bambu, berfungsi sebagai tempat target tangkapan terkurung;
b) Mulut berbentuk lingkaran, merupakan lubang tempat masuknya ikan ke dalam bubu sungai; dan
c) Pintu berbentuk kerucut, merupakan tempat mengambil hasil tangkapan.
Menurut kelompok kami, parameter utama dari bubu sungai adalah ukuran mulut bubu sungai dan ukuran bubu sungai.

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Perahu digunakan sebagai alat transportasi nelayan (Subani dan Barus 1989).
3.2 Nelayan
Jumlah nelayan yaitu dua orang yang bertugas untuk mengemudikan perahu dan mengoperasikan bubu sungai (Subani dan Barus 1989).
4. Metode Pengoperasian Alat
Adapun tahapan dalam pengoperasian bubu sungai ada tiga tahap, yaitu sebagai berikut (Winugroho 2007).
Bubu sungai diturunkan dan dioperasikan secara menetap di sungai (setting). Kemudian bubu sungai direndam selama 5-8 jam. Setelah itu, bubu sungai diangkat (hauling). Sebelum bubu sungai diangkat, pintu bubu ditutup terlebih dahulu agar ikan yang terperangkap tidak bisa keluar dari bubu, kemudian bubu diangkat dan hasil tangkapan dapat diambil oleh nelayan.

5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian bubu sungai biasanya di daerah sungai yang beraliran deras, terdapat batuan dan tidak terlalu dalam. Daerah distribusi bubu sungai adalah Kalimantan, Papua dan Jambi (Winugroho 2007).

6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan bubu sungai adalah ikan air tawar yang hidup di daerah aliran sungai, seperti gabus (Channa striata), sepat (Trichogaster sp.), mujair (Oreochromis mossambicus) dan mas (Cyprinus carpio) (Winugroho 2007).

Daftar Pustaka
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Von Brandt A. 1984. Fish Catching Methods of the World. London: Fishing News Book.
Winugroho. 2007. Artikel. http://winugroho.web.id. [21 November 2009].

Jaring Jodang

1. Definisi dan Klasifikasi
Jaring jodang adalah alat tangkap berbentuk limas terpancung pada bagian atasnya dan didesain khusus untuk menangkap siput macan. Jaring jodang diklasifikasikan ke dalam kelompok perangkap dan penghadang (Puspito 2009).

2. Konstruksi Alat Penangkap Ikan
Menurut Subani dan Barus (1989), bagian-bagian jaring jodang yaitu sebagai berikut.
a) Rangka (frame) yang terbuat dari besi berbentuk silinder. Rangka berfungsi untuk mempertahankan bentuk jaring jodang selama pengoperasian;
b) Badan (body), seperti rongga (berbentuk limas) yang terbuat dari anyaman jaring, berfungsi sebagai tempat target tangkapan terkurung; dan
c) Mulut, merupakan lubang tempat masuknya ikan ke dalam jaring jodang.
Jaring jodang tersusun atas 12 batang besi berdiameter 8 mm yang membentuk sebuah bangunan limas terpancung. Mulut jaring jodang berukuran 10 cm, bagian bawah berukuran 30 cm dan tinggi berukuran 15 cm. Semua sisi perangkap, kecuali bagian atasnya ditutupi oleh lembaran jaring multifilament polyethylene (PE) dengan ukuran mata jaring 0,5 cm (Puspito 2009).
Parameter utama dari jaring jodang adalah ukuran mulut jaring jodang.

3. Kelengkapan dalam Unit Penangkapan Ikan
3.1 Kapal
Perahu hanya digunakan sebagai alat transportasi nelayan ketika akan mengoperasikan jaring jodang.
3.2 Nelayan
Pengoperasian jaring jodang dibutuhkan 1-2 orang nelayan yang bertugas untuk memasang serta mengangkat jaring jodang.

3.3 Umpan
Umpan yang digunakan adalah ikan rucah berupa ikan pepetek dan ikan asin (Puspito 2009).

4. Metode Pengoperasian Alat
Adapun tahapan dalam pengoperasian jaring jodang ada tiga tahap, yaitu sebagai berikut (Puspito 2009).
a) Penurunan jaring jodang (setting). Jaring jodang dioperasikan di dasar perairan. Dalam satu kali pengoperasian digunakan 20-60 jaring jodang;
b) Perendaman jaring jodang (soaking). Lama perendaman jaring jodang adalah satu malam. Namun ketika sedang musim siput macan, jaring jodang hanya direndam selama 3-6 jam; dan
c) Pengangkatan jaring jodang (hauling).

5. Daerah Pengoperasian
Daerah pengoperasian jaring jodang adalah di sepanjang pantai Jawa Barat (Puspito 2009).

6. Hasil Tangkapan
Hasil tangkapan jaring jodang adalah siput macan, keong macan (Babylonia spirata) dan beberapa jenis keong lainnya (Puspito 2009).

Daftar Pustaka
Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 50. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Puspito G. 2009. Trap Non Ikan. [Materi Kuliah Alat Penangkapan Ikan] (tidak dipublikasikan). Bogor: Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar